MENGENAI SAYA (SALAM KENAL, SALAM ANGKON, KHIK SALAM KEMUAKHIAN)

Foto saya
Bandar Lampung, Lampung, Indonesia
Nurwan dilahirkan di Pekon Kebuayan Kecamatan Karya Penggawa Krui Pesisir Barat pada tanggal 16 Januari 1988. Merupakan anak pertama dari empat bersaudara (kakak dari Rika Diana, Laila Roza dan Azmi Fikron) anak pertama dari pasangan Bak Zuandi bin M. Nuh dan Mak Nurbaiti binti M. Samman. Merupakan salah satu keturunan dari Paksi Buay Bejalan Diway yang turun dan menetap serta menurunkan Jurai Radin Bangsawan dan Djagakoe di Pekon Perpasaan Way Nukak Krui Pesisir Barat.

Rabu, 22 Februari 2012

SIGER/SIGOKH PUSAKA LAMPUNG




Kenapa sih Lambang Lampung kok Siger? Hampir di setiap sudut kota, baik gambar, maupun bentuk tiga dimensional dari Siger menghiasi rumah penduduk, di gapura, ornamen atap rumah, bahkan ada tugu yang berbentuk siger dengan ukuran ekstra besar. Makin hari, pikiran saya semakin dipenuhi tanda tanya soal keberadaan Siger di Lampung ini.

Siger sendiri adalah sebuah bentuk yang melambangkan mahkota keagungan adat budaya dan tingkat kehidupan terhormat. Biasanya, Siger selalu dipergunakan oleh pengantin perempuan Lampung. Artinya, lambang Lampung ini merupakan simbolisasi sifat feminin. Pada umumnya, lambang daerah di seputar Nusantara bersifat maskulin. Seperti halnya di Jawa Barat, lambang yang dipergunakan adalah Kujang, yaitu senjata tradisional masyarakat Sunda. Atau di Kalimanatan, Mandau merupakan simbol yang tidak berbeda dengan Jawa Barat, yang melambangkan sifat-sifat patriotik dan defensif terhadap ketahanan wilayahnya.

  
Didorong rasa kepenasaran, saya terus mencari informasi mengenai Siger ini. Sebuah cerita rakyat saya dapatkan dari sebuah situs Internet, yang menceritakan tentang Siger ajaib. Di Marga Sekampung, Lampung Timur ada sebuah cerita turun-temurun yang sampai saat ini masih di percaya sebagai sebuah Living 

Legend.
Dahulu kala bila warga akan mengadakan acara adat Lampung seperti pernikahan atau Cakak Pepadun (sebuah upacara Lampung). Masyarakat meminjam atau menggunakan Siger Emas dari alam gaib melalui sebuah tempat di salah satu kebun warga. Kebun warga yang keberadaannya gaib itu, merupakan perkampungan masyarakat Lampung pada jaman yang lebih dahulu dari waktu itu. Namun karena suatu hal perkampungan ini hilang beserta penghuni kampung itu. Tapi masyarakat masih bisa berhubungan dengan warga Kampung yang hilang itu dengan cara meminjam Siger yang dipergunakan untuk digunakan dalam Kegiatan Adat tersebut. Namun karena ketamakan warga yang telah berlaku curang setelah menggunakan Siger tersebut tidak di kembalikan lagi ke kampung gaib itu lagi, Sehingga keberadaan Siger gaib itu hilang entah kemana. Namun di kampung gaib itu masyarakat masih sering mendengar adanya suara-suara penghuni alam gaib itu. Seperti suara musik kolintang khas Lampung pada hari-hari tertentu.

Dari cerita itu jelas terlihat, bahwa Siger sangat berarti bagi masyarakat Lampung. Analisa sederhana saya, Siger adalah mahkota lambang kejayaan dan kekayaan, karena warna emasnya, yang pada Siger asli terbuat dari emas murni. wajar saja jika nilai Siger sangat berarti karena nilainya itu. Namun pikiran saya tetap tidak lepas dari semantik feminin dari bentuk Siger itu sebagai lambang sebuah daerah.

Untuk mencari jawaban dari rasa kepenasaran, saya berdiskusi dengan seorang tokoh Lampung yang dikenal sebagai teknolog dan juga budayawan, yaitu Bapak Ir. Anshori Djausal, MT. Dialog kami terasa begitu menarik dan dinamis. Pada awalnya, Pak Ans, begitu saya memanggil beliau, mengarahkan diskusi kami pada awal masuknya Agama Islam di masyarakat Lampung. Dominasi warna hitam dan gelap lainnya, yang kala itu memengaruhi masyarakat Lampung, seperti juga masyarakat lainnya di Indonesia yang masih menganut paham animisme, tergantikan oleh pengaruh warna-warna yang lebih cerah dan bernuansa emas. Nilai optimisme dan simbolisasi kekayaan atau duniawi, dilambangkan dengan warna emas dan warna-warna cerah lain seperti kuning, putih dan merah, yang juga menggambarkan nilai-nilai kebangsawanan.


Akhirnya, pembicaraan sampailah ke masalah Siger yang saya tunggu-tunggu. Penggunaan lambang Siger ternyata bukan hanya masalah lambang kejayaan dan kekayaan karena bentuk mahkotanya saja, melainkan memang mengangkat nilai feminisme. Kembali lagi ke prinsip-prinsip dalam Islam, bahwa laki-laki adalah pemimpin dalam rumah tangga, dan perempuan sebagai manajer yang mengatur segala sesuatunya dalam rumah tangga. Konsep itulah yang diterapkan dalam simbolisasi Siger. Menurut Pak Ans, dalam masyarakat Lampung, perempuan sangat berperan dalam segala kegiatan, khususnya dalam kegiatan rumah tangga. Dibalik kelembutan perempuan, ada kerja keras, ada kemandirian, ada kegigihan, dan lain sebagainya. Intinya, meskipun masyarakat Lampung penganut garis ayah atau patrilineal, figur perempuan merupakan hal penting bagi masyarakat Lampung, yang sekaligus menjadi inspirasi dan pendorong kemajuan pasangan hidupnya.

Sebagai lambang daerah, sentuhan feminin seharusnya menjadi sebuah konsep yang lebih ramah terhadap para pendatang atau tamu. Tepat dengan prinsip masyarakat Lampung yaitu Nemui Nyimah, atau ramah terhadap tamu. Jika kita terapkan dalam konteks terkini, sudah seharusnya Lampung menjadi provinsi yang ramah terhadap para pendatang, khususnya bagi para investor yang diharapkan dapat memberi kontribusi dalam pembangunan Lampung agar menjadi daerah yang maju dan mandiri, serta mempunyai pendatapatan asli daerah yang tinggi.

Diskusi yang berjalan cukup lama ini terasa begitu menarik, dengan kesimpulan akhir, bahwa dengan feminisme yang dimiliki Lampung sudah seharusnya menjadi “Ibu” bagi masyarakatnya, ramah terhadap tamu yang mendatanginya, serta mengayomi dan memakmurkan masyarakatnya dengan kesuburan serta berbagai potensi yang berada dalam kandungannya, seperti layaknya seorang ibu yang cinta terhadap anak-anaknya.








 sumber: 
http://filsafat.kompasiana.com/2010/03/08/rahasia-dibalik-feminisme-siger-lampung/
www.google.com/siger lampung

1 komentar:

PENCARIAN

LAMBANG PAKSI BEJALAN DIWAY

LAMBANG PAKSI BEJALAN DIWAY
PEKON PERPASAN (WAY NUKAK) KRUI PESISIR BARAT