MENGENAI SAYA (SALAM KENAL, SALAM ANGKON, KHIK SALAM KEMUAKHIAN)

Foto saya
Bandar Lampung, Lampung, Indonesia
Nurwan dilahirkan di Pekon Kebuayan Kecamatan Karya Penggawa Krui Pesisir Barat pada tanggal 16 Januari 1988. Merupakan anak pertama dari empat bersaudara (kakak dari Rika Diana, Laila Roza dan Azmi Fikron) anak pertama dari pasangan Bak Zuandi bin M. Nuh dan Mak Nurbaiti binti M. Samman. Merupakan salah satu keturunan dari Paksi Buay Bejalan Diway yang turun dan menetap serta menurunkan Jurai Radin Bangsawan dan Djagakoe di Pekon Perpasaan Way Nukak Krui Pesisir Barat.

Kamis, 16 Februari 2012

PEPADUN: Abung Siwo Migo

Abung Siwo Migo

JEJAK PERADABAN TINGGI
DI CANGUK GACCAK
Persinggahan Perjalanan Panjang Menuju Terbentuknya Abung Siwa Mega


BALAI ARKEOLOGI BANDUNG
Jl. Raya Cinunuk Km. 17, Cileunyi, Bandung 40623
Telp. 022 – 7801665, Faks. 022 – 7803623



Lokasi
Situs Canguk Gaccak berada di wilayah Desa Sekipi, Kecamatan Abung Tinggi, Kabupaten Lampung Utara. Lokasi situs sangat mudah dicapai baik menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua. Dari Kotabumi menuju Bukit Kemuning hingga sampai di Simpang Rengas ke arah kiri menuju Desa Sekipi. Sebelum memasuki Desa Sekipi terdapat lokasi penambangan bahan galian C. Dengan menyusuri jalan kampung akan sampai di lokasi yang berada di tepian Way Abung.


Lokasi situs Canguk Gaccak

Cerita Perjalanan Panjang
Menurut cerita lama yang disampaikan secara turun-temurun, masyarakat Lampung mula-mula bermukim di daerah Sekalabrak. Daerah ini berada di sekitar Gunung Pesagi hingga tepian Danau Ranau. Menurut kajian terhadap cerita rakyat yang dilakukan oleh Oliver Sevin, pada sekitar abad ke-14 terjadi migrasi dari Sekalabrak ke seluruh wilayah Lampung. Diceritakan, adalah Empu Cangih pemimpin Keratuan Di Puncak, yang berkuasa di puncak Gunung Pesagi melakukan perjalan mencari daerah baru untuk mendirikan perkampungan. Perjalanan Empu Cangih yang juga disebut Datu Di Puncak dari Sekalabrak singgah di daerah Selabung selanjutnya pindah lagi ke Canguk Gaccak.
Tidak berapa lama setelah rombongan Datu Di Puncak bermukim, diketahuilah bahwa di sebelah hulu telah bermukim Rio Kunang. Beliau adalah salah satu keturunan Datu Di Pemanggilan dari Puyang Semedekaw. Dalam rombongan Datu Di Puncak disertai Beliyuk yang juga keturunan Puyang Semedekaw. Kelompok ini kemudian bersatu membangun perkampungan.


Makam Raja Dilawuk

Ketentraman, keamanan, dan kesejahteraan yang sudah terbentuk terganggu ulah pengkhianatan Raja Di Lawuk dari Laut Lebu yang menyamar sebagai tamu Datu Di Puncak. Kerabat Datu Di Puncak yang terdiri Nunyai, Unyi, Subing, Nuban, Bulan, Beliyuk, Kunang, Selagai, dan Anak Tuha berunding mengatur siasat pembalasan kepada Raja Di Lawuk. Diriwayatkan bahwa Subing akhirnya berhasil membalaskan dendam. Kemenangan ini kemudian dirayakan di daerah Gilas tepi Way Besay. Dalam perayaan ini kemudian terbentuklah masyarakat Abung Siwa Mega.


Objek arkeologis yang menandai bekas perkampungan di Canguk Gaccak meliputi komplek tinggalan megalitik, komplek makam Minak Trio Diso, dan komplek makam Rendang Sedayu. Perjalanan dari jalan desa menuju lokasi setelah melalui sungai kecil Way Tamiang akan sampai pada lahan kebun kopi. Di antara rimbunnya kopi terdapat beberapa batu yang merupakan peninggalan budaya megalitik. Batu tersebut ada yang disusun membentuk semacam meja dengan empat kaki yang dinamakan dolmen, susunan batu melingkar (stone enclouser), dan batu yang ditancapkan secara berdiri yang disebut menhir. Peninggalan semacam ini terdiri 12 kelompok. Pada ujung timur lahan terdapat benteng tanah yang dilengkapi parit. Benteng dan parit ini membentang dari tepi Way Abung di selatan hingga tepi Way Tamiang di utara. Apabila dicermati, pada lahan ini akan dapat ditemukan pecahan keramik asing. Keramik yang pernah ditemukan berasal dari Cina buatan masa Dinasti Song (abad ke-10 – 13) dan Yuan (abad ke-13 – 14).

Komplek Makam Minak Trio Diso

Di seberang Way Abung dapat dijumpai komplek makam Minak Trio Diso yang terdiri dua kelompok. Kelompok makam pertama berada pada lahan di tepi sawah sebelah selatan Way Abung sedangkan yang kedua berada di sebelah barat kelompok makam pertama. Menurut keterangan John Akhyar (juru pelihara), pada kelompok makam pertama, tokoh utama yang dimakamkan adalah Minak Raja Di Lawuk. Dalam cerita rakyat, Minak Raja Di Lawuk dimakamkan di dua lokasi. Di Canguk Gaccak merupakan makam kepala, sedang badannya dimakamkan di Gedong Meneng, Tulangbawang. Konon apabila kepala dan badan tidak dipisah akan hidup lagi.


Kelompok makam kedua berada pada semacam bukit kecil setinggi sekitar 3 m. Komplek makam ini dilengkapi cungkup yang dibangun Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lampung Utara pada tahun 2003. Tangga masuk berada di sisi timur. Pada anak tangga ketiga terdapat batu berdiameter sekitar 25 cm. Batu ini merupakan lambang kepala Minak Raja Di Lawuk, yang harus diinjak oleh keturunan Minak Trio Diso ketika akan berziarah. Pada bangunan cungkup terdapat tiga makam. Makam paling timur merupakan makam Minak Dara Putih atau Hyang Mudo, makam yang ditengah merupakan makam Minak Trio Diso, dan yang di utara adalah makam Syekh Abdurrahman. Minak Trio Diso adalah gelar anak Datu Di Puncak yang bernama Nunyai.
Di sebelah tenggara komplek makam Minak Trio Diso berjarak sekitar 300 m terdapat bukit kecil yang dinamakan Gunung Rimba Bekasan. Di atas bukit terdapat lahan seluas 65 ha yang ditumbuhi bambu. Pada hutan bambu ini terdapat lahan seluas sekitar 1 ha yang dikelilingi parit serta pada sisi barat dan utara berbatasan dengan aliran sungai Pasuut yang merupakan anak Way Abung. Pada lahan ini terdapat makam keramat. Tokoh utama yang dimakamkan adalah Rendang Sedayu. Tokoh ini dikenal sebagai salah satu isteri Minak Trio Diso. Rendang Sedayu juga dikenal dengan sebutan Raja Lemaung.

Bukti Sebuah Peradaban Tinggi
Dalam perjalanan peradaban masyarakat Lampung, Canguk Gaccak merupakan tempat bermukim masyarakat pendukung tradisi megalitik dan masyarakat masa pasca prasejarah. Tinggalan berupa dolmen di Canguk Gaccak, bagi masyarakat megalitik kadang-kadang berfungsi sebagai pelinggih roh atau tempat persajian. Pada masyarakat megalitik yang lebih maju, dolmen digunakan sebagai tempat duduk kepala suku atau raja-raja ketika pertemuan maupun upacara pemujaan arwah leluhur. Pada dasarnya dolmen dipandang sebagai tempat keramat. Di situs Canguk Gaccak, dolmen dilengkapi dengan menhir. Menhir adalah medium penghormatan, penampung kedatangan roh, dan sekaligus menjadi lambang dari orang-orang yang diperingati.
Kehidupan masyarakat megalitik memperlihatkan masyarakat berperadaban tinggi yang sudah mengenal sistem organisasi sosial. Kehidupan ini berkembang hingga masa kedatangan Datu Di Puncak. Sistem organisasi sosial dengan diwarnai kehidupan demokratis ini akhirnya melahirkan masyarakat Abung Siwa Mega. Beberapa tinggalan arkeologi di Canguk Gaccak merupakan bukti bahwa moyang pada masa lampau sudah berperadaban tinggi. Oleh karena itu, nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam peninggalan tersebut perlu difahami untuk landasan pembangunan di masa depan (Nanang Saptono).

sumber:http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6162332

Adapun abung 9 marga (Sewou Mego) adalah:
1.Unyai, 2. Unyi, 3. Nuban, 4. Beliuk, 5. Kunang, 6. Anak Tuho, 7. Selagai, 8. Nyerupa, dan 9. Subing bahkan dari Marga Subing ini yang paling terkenal SUBING menduduki nomor urut 4 karena ia dari keturunan laki-laki.
Unyai mengikuti WAY RAREM, UNYI mengikuti WAY SEPUTIH, NUBAN mengikuti WAY BATANG HARI, dan SUBING mengikuti WAY PENGUBUAN TERBANGGI.

Dapat dikatakan ADAT PEPADUN ABUNG SEWOU MEGO ini sangat fanatik sekali/keras, disiplin dan terikat sekali dalam pelaksanaan dan penggunaan daripada ADAT. Terbukti dalam peng kurs uang jujur, uang adat, mereka sebenarnya tidak mengenal istilah Perabungan atau mereka akan melakukan suatu hajatan peralatan perkawinan harus dibuat dikampung asal mereka.

Hanya kalau mereka berhadapan dengan MEGO PAK, mereka terpaksa mengikuti cara-cara MEGO PAK, yang mengenal PERABUNGAN, yang tidak mengadakan peng KURS uang, yang dimana tempat boleh diadakan Hajat/Upacara Perkawinan.

Demikin juga terhadap PUBIAN TELU SUKU, yang dapat dikatakan hampir sama disiplinnya dengan ABUNG SEWO MEGO.
Namun demikian garis besarnya sama-sama yang memakai Adat Pepadun, hanya perbedaannya ini dalam pelaksanaan pemakaian dan pengguna dari pada ADAT yang merupakan hal-hal yang bukan prinsipil.

ADAT PEPADUN PUBIAN TELU SUKU
terbagi menjadi 3 suku/marga :
1. SUKU MASYARAKAT
2. TAMBAK PUPUS
3. BUKU JADI

DAERAH MASYARAKAT /TAMBAK PUPUS :
Meliputi Kecamatan Kedaton, Kecamatan Gedung Tataan dan Kecamatan Pegelaran dengan Marganya MARGA WAY SEMAH dan MARGA BALAU.

BUKU JADI meliputi Kecamatan Natar yang berpusat di TEGINENENG/RULUNG LOK dan mempunyai 5 paksi:
1.PAKSI RULUNG LOK
2.PAKSI GEDUNG GUMANTI
3.PAKSI BUMI AGUNG
4.PAKSI PEMANGGULAN
5.PAKSI MIRAKBATIN.

Marga-Marganya antara lain Marga BUAY TUNANG dan Marganya BUNGA MAYANG dan ADAT PEPADUN NEGERI BESAR WAY KANAN dengan Marganya BAHUGA dan PAMUKA. Adat Pepadun di daerah ini pun dalam pemakain dan pelaksanaan adatnya juga sangat sering sekali, disiplin dan kuat dalam mempertahankan keaslian Adat, bahkan Rakyat dan Masyarakat Adat, mereka sangat patuh dan setia pada Pimpinan Adat / Penyimbang Adat, hormat dan kagum kita pada kedua daerah ini, mereka benar-benar menganggap seorang Pimpinan Adat Laksana seorang Raja yang harus ditaati dan dipatuhi.

Pada dasarnya ADAT PEPADUN ini memakai system DEMOKRASI, Musyawarah untuk Mufakat, Mufakat untuk kebulatan dan kepaduan, bukankah PEPADUN berasal dari PEPADUN artinya padu, bulat, lain haknya Adat SEBATIN yang merupakan Adat Tunggal, Adat turun temurun yang lebih mendekati system Kerajaan.

Penulis sekali lagi mengucapkan maaf pada para Penyimbang-penyimbang/pemuka-pemuka Adat Pepadun andaikan dalam-dalam membicarakan tentang Adat Pepadun, ada yang lebih dan ada yang kurang baik dalam menyebutkannya maupun dalam menuturkannya, sebab sudah di katakan sebelumnya, bukan maksud penulis untuk mengungkap Adat Pepadun, sekedar pelengkap dari pada RIWAYAT SEJARAH TULANG BAWANG, mengapa penulis katakan RIWAYAT tidak langsung SEJARAH TULANG BAWANG, karena dalam pengungkapkannya berdasarkan Cerita turun temurun (RIWAYAT) dan berdasarkan SEJARAH (tertulis), maka disebut “RIWAYAT SEJARAH TULANG BAWANG”

sumber: http://mestaboh.com/217/adat-pepadun-abung-sewou-megou-dengan-marga-marganya/


Sembilan kebuaian penduduk asli ini, di lingkungan setempat masing-masing mendiami sejumlah tempat di Kabupaten Lampung Tengah. Hal itu dengan ditandai adanya perkampungan masyarakat pribumi, bahasa daerah sehari-hari yang dipergunakan serta budaya daerah penduduk suku asli yang turun temurun bermukim di sini.

Dalam Kitab “Kuntara Raja Niti”, yakni kitab (book) adat istiadat orang Lampung yang hingga kini masih dapat ditemukan dan di baca, baik dalam bentuk aksara asli Had Lappung maupun yang telah di tulis dalam aksara latin, walaupun isinya sudah banyak di pengaruhi agama Islam yang masuk dari Banten, dikatakan sebagai berikut:

Siji turunan Batin tilu suku tuha lagi lewek djak Pagaruyung Menangkabau pina turun satu putrid kajangan, dikawinkan jama Kun Tunggal, ja ngada Ruh Tunggal ja ngakon tunggal ja ngadakan umpu sai tungau umpu sai tungau ngadakan umpu serunting umpu sai runting pendah disekala berak ja budiri ratu pumanggilan, Ratu pumanggilan (umpu si Runting) nganak lima muari;
  1. 1.      Sai tuha Indor Gadjah turun abung siwa miga,
  2. 2.      Si Belunguh turunan peminggir,
  3. 3.      Si Pa’lang nurunkan pubijan tilu suku,
  4. 4.      Si Pandan ilang,
  5. 5.      Si Sangkan wat di suka ham.

Dengan demikian, menurut apa yang diuraikan Kuntara Raja Niti, orang-orang Lampung (suku Pubian, Abung, Peminggir dan lain-lain) berasal dari Pagaruyung, keturunan Putri Kayangan dan Kua Tunggal. Lalu setelah kerabat mereka berdiam di sebuah daerah bernama Skala Berak, di masa cucunya Umpu Serunting, mereka mendirikan Keratuan Pemanggilan. Umpu Serunting selanjutnya menurunkan lima orang anak laki-laki. Mereka terdiri dari Indra Gajah (Inder Gajah), yang kemudian menurunkan orang Abung, Bulunguh menurunkan orang Peminggir, Pa’lang menurunkan orang Pubian, Pandan dikatakan menghilang dan Sangkan dikatakan berada di Suka ham (?). Suka ham, diyakini nama sebuah tempat bernama Sukadanaham yang sekarang berada di Kabupaten Tanggamus.

Sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Kuntara Raja Niti, karena orang-orang Bajau (perompak laut) datang menyerang, akhirnya Keratuan Pemanggilan menjadi pecah. Sedangkan warganya beralih tempat meninggalkan Skala Berak menuju ke daerah dataran rendah Lampung sekarang. Keturunan Indra Gajah/Inder Gajah kemudian menetap di Ulok Tigou Ngawan di Canguk Gatcak di hulu Way Abung (Kecamatan Tanjung Raja, Lampung Utara).

Di bawah pimpinan Minak Rio Begeduh, mereka mendirikan Keratuan di Puncak. Diperkirakan, di masa Minak Begeduh yakni sekitar tahun 1365 armada Majapahit yang bertolak dari Pulau Jawa sempat singgah di pantai timur, yaitu di daerah kekuasaan Keratuan Pugung yang berada di Kecamatan Labuhan Meringgai sekarang. Namun para awak yang merapat di sana tidak sampai masuk ke daerah pedalaman. Mereka hanya berada di pesisir pantai.

Semasa kekuasaan putra Minak Rio Begeduh bernama Minak Paduka Begeduh, daerah Abung di serang lagi oleh perompak laut. Penyerangan ini mengakibatkan tewasnya Minak Paduka Begeduh. Hal tersebut menyebabkan keempat anaknya mengadakan pertahanan. Keempat anak Minak Paduka Begeduh ini, masing-masing bernama Nunyai (Minak Trio Disou) yang membuat pertahanan di sepanjang Way Abung dan Way Rarem. Unyi (Minak Ratu di Bumi) membuat pertahanan di sepanjang Way Seputih. Nuban (wanita) dengan suaminya membuat pertahanan di sepanjang Way Batanghari dan Subing membuat pertahanan di sepanjang Way Terusan. Menurut cerita turun temurun yang di dengar, Subing berhasil menebus kehormatan ayahnya Minak Paduka Begeduh yang telah wafat dengan membunuh kepala perompak bernama Raja di Laut.

Sumber: http://www.facebook.com/pages/Lampung-Communications/156407121070591?sk=notes

  •  Pendapat Seputihdoh:
Jika keturunan skala berak berarti adat yg digunakan pertama adalah SEBATIN. Waykanan, pubian, nyerupa abung dan bulan mego pak berasal dari skala brak, karena buay2 mereka sama dengan di pesisir.

Adat SEBATIN bukan diciptakan oleh PAKSI PAK, tetapi oleh buay pertama di skala brak yaitu: tumi & kenyangan (Semenguk, benawang, haji dan komering), dengan dialek API (logat pugung & pemanggilan).

Buay tumi (SEBATIN GEDUNG) dan buay kenyangan (SUKU2 dan PENETOP EMBOKH/PANGLIMA) adalah bersaudara. Tetapi suku2nya sudah islam, sedangkan sebatinnya belum. Maka buay tumi pindah ke krui (pesisir).

Buay tumi & pengikut2nya dr buay kenyangan (yang masih setia) dipesisir krui mendirikan ADAT SEBATIN KEBANDARAN yg sudah islam. Keturun2annya menyebar melalui pesisir2 laut & dikenal dengan LAMPUNG PESISIR.

Sedangkan di skala brak yg dikuasai penetop2 embokh/panglima tumi, mengangkat sendiri sebatin tanpa penopatan dari buay tumi yaitu dengan kursi penobatan (PEPADUN), sehingga disebut SEBATIN PAKSI..

  • Pendapat Lain

Adat pepadun sai batin terbentuk pada abad ke-17 tahun 1648 M oleh empat kelompok/buay, yaitu Buay Unyai di Sungai Abung, Buay Unyi di Gunungsugih, Buay Uban di Sungai Batanghari dan Buay Ubin (Subing) di Sungai Terbanggi, Labuhan Maringgai. Adat pepadun sai batin ini masih ada pengaruh dari Hindu dan Buddha Putri Bulan tidak dikenal keempat peserta sidang (empat buay) yang merupakan utusan kelompok masing-masing wilayah. Sangaji Mailahi menjawab akan membentuk adat.

Keempat bersaudara dari 4 buay tersebut merasa sangat tertarik melihat Putri Bulan adik angkatnya Sangaji Malihi, sehingga rapat/sidang ditunda sejenak karena terjadi keributan di antara mereka. Untuk mengatasi keributan itu, Sangaji Malihi memutuskan Putri Bulan dijadikan adik angkat dari mereka berempat. Setelah meninggalkan daerah Goa Abung, mereka menyebarkan adat ke daerah pedalaman Lampung sekarang. Buay Unyai pada puluhan tahun kemudian hanya mengetahui sidang adat pepadun sai batin diadakan di daerah Buay Unyai dan sebagai Raja Adat, Raja Hukum, Raja Basa (Bahasa) adalah Sangaji Malihi yang kemudian hari dijuluki masyarakat sebagai Ratu Adil. Buay Bulan (Mega Pak Tulangbawang) pada permulaan abad ke-17 Putri Bulan bersuamikan Minak Sangaji dari Bugis yang julukannya diambil dari kakak angkatnya Sangaji Malihi (Ratu Adil).

Empu Riyo adalah keturunan Buay Bulan di Buay Aji Tulangbawang Tengah dan Makam Minak Sangaji dan Putri Bulan ada di belakang Kecamatan Tulangbawang Tengah dan Makam Minak Sangaji dan Putri Bulan di Buay Aji Tulangbawang Menggala (sekarang). Di antara keturunan Raja Jungut/Kenali Pesagi keturunan Buay Bulan ada di Kayu Agung, keturunan Abung Bunga Mayang dari Mokudum Mutor marga Abung Barat sekarang.
Jadi adat pepadun sai batin merupakan satu kesatuan (two in one) yang tidak terpisahkan satu sama lainnya karena arti/makna dari pada kata atau kalimat pepadun sai batin adalah pepadun = musyawarah/mufakat, dan sai batin = bersatu/bersama. Jadi kata pepadun sai batin adalah musyawarah mufakat untuk bersama bersatu.

Dan kemudian hari sejarah adat pepadun sai batin terbagi menjadi 2 kelompok/jurai, yaitu Lampung sai = pepadun dan aji sai = sai batin, yang kemudian kita kenal sebagai lambang Sang Bumi Ruwa Jurai (pepadun sai batin). Fakta/bukti autentik piagam logam tahun 1652 Saka/1115 H atau tahun 1703 M yang bertuliskan Arab gundul dan aksara pallawa/hanacaraka msh ada sampai sekarang. Jadi adat pepadun sai batin itu berarti musyawarah mufakat untuk bersatu/bersama dalam pembentukan Adat.
Pepadun = Musyawarah/mufakat
Sai batin = Bersatu/bersama
Lampung sai = Kita bersatu/mereka bersatu
Aji sai = Saya satu/ini satuSang Bumi Ruwa Jurai = pepadun saibatin (satu kalimat) musyawarah untuk bersatu

4 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Singgah pai puakhi di blog sikam : http://www.jamauddinakkuan.co.cc

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa minta tlong gambar pepadun yang resolusinya besar, biar gak pecah kalau mau d cetak.

      Hapus
  3. Hahaha Kok Jadi Begini Ya Alun Fikir Sejarah Yang Kamu Buat...

    BalasHapus

PENCARIAN

LAMBANG PAKSI BEJALAN DIWAY

LAMBANG PAKSI BEJALAN DIWAY
PEKON PERPASAN (WAY NUKAK) KRUI PESISIR BARAT